Artikel baru

Menuju Kejayaan Sapeken Tahun 2020

(Perspektif Baru Kebangkitan Kepulauan Sapeken)

OLEH: HUSAMAH

(Pegiat Pendidikan di Malang, Instruktur Lab Biologi UMM)

Bermimpilah, karena Tuhan akan Memeluk Mimpi-mimpimu” (Novel Laskar Pelangi)

Prolog

Sebuah artikel lama yang berjudul “The Global Economy” (The Economist, 1/10/1994) menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia pada tahun 2020. Menurut artikel tersebut, pada 2020 urutan kekuatan ekonomi yang ada sekarang akan berubah. Diperkirakan China akan menjadi 140%, AS (100%), Jepang (42%), India (30%), Indonesia (25%), Jerman (23%), Korea Selatan (21%), Thailand (20%), Perancis (19%), dan Taiwan (18%). Menarik bahwa di antara lima besar terdapat empat negara Asia dan di antara sepuluh besar terdapat tujuh negara Asia.

Pengusaha Ricky Sutanto bahkan lebih optimistis lagi. Sebagai mana dikutip oleh Salahudin Wahid (Indonesia Tahun 2020, Optimistis atau Pesimistis?, Kompas/25/06/2005), tahun 2004 pengusaha ini menulis buku berjudul “2015, Kita Terkaya No.5” untuk membuka wawasan dan menumbuhkan semangat bangsa yang seakan hancur lebur ini. Tahun 2005, The National Intelligence Council (Amerika Serikat) mengumumkan prediksi The 2020 Global Landscape (Penampilan Dunia Tahun 2020) yang menyinggung Indonesia. Dikatakan bahwa ada kemungkinan Indonesia bisa meningkat seperti negara-negara besar Eropa dan menjadi kekuatan ekonomi kelas menengah setelah AS, China, Uni Eropa, dan negara tokoh besar Mahatma Ghandi, India.

Modalitas Sapeken

Namanya juga prediksi (ramalan), apa yang dikemukakan sumber di atas bisa salah tetapi juga bisa benar. Di sini, penulis akan menganggap bahwa ramalan tersebut di atas benar. Alasannya, tengoklah novel hebat Laskar Pelangi yang menyuruh bermimpi karena suatu saat Tuhan akan memeluk mimpi itu. Bagi penulis mimpi adalah optimisme-produktif yang menuntut teknik jitu dan keuletan untuk menggapainya. Maka banyaklah bermimpi dan bangunlah untuk menggapai mimpi itu. Sebagai putra Sapeken rasanya tidak salah jika penulispun memiliki mimpi bahwa Kecamatan (Kepulauan) Sapeken akan mencapai kejayaannya tahun 2020 atau 11 tahun yang akan datang.

Setidaknya penulis mengajukan dua kekuatan utama untuk mencapai atau menuju kejayaan tersebut. Pertama, dari sudut pandang Sumber Daya Alam (SDA). Memang, saat ini Kecamatan (Kepulauan) Sapeken memang (masih?) kaya. Lihat saja minyak dan gas yang setiap hari dieksploitasi dari perutnya. Kekayaan baharinya pun (masih?) melimpah. Berbagai jenis hasil laut yang bernilai ekonomis tinggi tersedia di laut dan pesisirnya. Laut dalam dan zona pasang surutnya sama-sama menjanjikan. Hasil penelitian pendahuluan tugas akhir tentang Holothuroidea (keluarga Teripang/bala’) di Pulau Pagerungan Kecil yang penulis lakukan menunjukkan besarnya potensi tersebut.

Kedua, dari sudut pandang Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan sudah mulai dirasa penting oleh masyarakat. Terbukti, mulai banyak yang menyekolahkan anaknya dan telah banyak pula lembaga pendidikan yang ada. Mahasiswa asal Kepulauan Sapeken sudah mulai bertebaran di seantero negeri. Sarjana-sarjana baru mulai menetas dan siap berkiprah di dunia nyata.

Menyadari Kesalahan

Orang bijak adalah orang yang menyadari kesalahannya. Selain memiliki potensi di atas, banyak sisi negatif, kealfaan atau kekurangan yang mendesak untuk diperbaiki. Potensi kekayaan SDA ini kini sudah “lampu kuning”. Penggunaan bahan peledak, racun ikan (potas), dan pukat harimau telah membawa malapetaka. Terumbu karang sebagai habitat ikan banyak yang hancur. Pola regenerasi ikan tidak terjadi karena ikan-ikan kecil pun juga ikut mati dan tertangkap. Hewan-hewan lainnya ikut menghilang. Praktis, pendapatan nelayan (profesi sebagian besar penduduk Kecamatan Sapeken) semakin menurun drastis. Hasil dari eksploitasi minyak bumi dan gas justru tidak dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Sapeken, meskipun ada jumlahnya sangat sedikit.

Pendidikan belum memiliki kontribusi yang besar, selain hanya memberi kemampuan membaca, menulis dan menghitung (calistung) masyarakat. Pendidikan yang ada belum masuk pada penciptaan daya kritis, dan belum berorientasi pada potensi lokal dan nasib masyarakat lokal. Seperti umumnya pendidikan di Indonesia, kurikulum pendidikan Sapeken selalu berkiblat kepada apa yang diinginkan kota/daratan tanpa sekalipun melihat kondisi riil di daerah setempat.

Lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan agama yang kian banyak menjamur di Kecamatan Sapeken lebih mengajarkan anak didik untuk manut-manut saja, dogmatis, simbolik dan irrasional. Oleh sebab itu, setelah mereka tamat, bukannya nilai agama itu terejawantahkan atau teraplikasi dalam kehidupan, justru tampilan lain yang mereka tunjukkan. Bahkan ironisnya, merekalah yang menjadi agen perusak norma masyarakat. Parahnya lagi, kondisi ini dipersubur dengan masuknya budaya televisi dan sinetron yang setiap waktu ditonton secara berjamaah.

Para ulama dan tokoh masyarakat (tokoh agama) Sapeken juga seakan kian jauh dari umat. Apakah mereka telah terjebak? Jawabannya mungkin saja ‘ya’. Ketika para ulama lebih mementingkan bagaimana menjadi calon legislatif dan bagaimana memajukan partai tertentu di wilayah Sapeken, mereka kemudian mengabaikan fungsi sebagai agen perantara, pendidik, sekaligus pencerah masyarakat. Salah satu faktor lain yang berperan yaitu adanya prinsip yang menganggap golongan ormas tertentu lebih benar. Hal itu ditambah dengan ketidakinginan para ulama tersebut untuk berdakwah lintas kelompok (misalnya, orang Persis hanya untukk Persis dan NU untuk NU saja). Bisa saja, kasus kekerasan, barbarisme dan brutalisme yang terjadi beberapa waktu lalu di Sapeken (Tanjung Kiaok) merupakan wujud kelalaian para ulama yang telah jauh dari umat. Ingatlah, kekerasan yang muncul tersebut hanya contoh kecil (teori gunung es).

Pengusaha dan pemilik modal di Sapeken ternyata lebih kapitalis dan cenderung mengeruk keuntungan besar, tak peduli apakah itu merugikan masyarakat lain atau tidak. Kekayaan hanya dimiliki segelintir orang. Akhirnya mereka tak ubahnya raja-raja kecil. Ekonomi kapitalis itu telah keluar dari konsep ideal, dimana ekonomi kerakyatan (termasuk yang melibatkan dan menyejahterakan segala lapisan masyarakat) yang sebenarnya harus disemai.

Mahasiswa Sapeken yang bertebaran belum memiliki kontribusi riil terhadap daerahnya. Bahkan kebanyakan mahasiswa itu terjebak pada budaya gaul dan fashion kota. Dalam bahasa kasarnya, ini dinamakan sok metal, sok gaul dan sok pinter. Cobalah kita renungkan! Sebagai ungkapan rasa memiliki HIMAS, kembali ada pertanyaan menarik yaitu sucikah HIMAS dari kepentingan-kepentingan? Satu hal yang menggelitik, ironis dan belum sempat di sampaikan penulis adalah masalah jebakan partai politik dan Ormas Islam tertentu. Mungkin dalam niat para pengurus tidak demikian, tetapi dengan mendatangkan salah satu narasumber yang memiliki background politik tertentu dan ormas tertentu sama saja dengan mematikan peran dan potensi HIMAS sebagai pihak penengah. Sekali lagi, para punggawa HIMAS harus menyadarinya karena nyatanya itulah yang terlihat dari luar.

Epilog

Apakah waktu yang hanya tinggal 11 tahun ini dapat kita manfaatkan secara cerdas untuk bisa menggapai mimpi tersebut? Sudah saatnya kita sadar dan bergerak untuk berubah. Jika tidak, bayangkan sendiri wajah Sapeken 11 tahun mendatang. Tentu saja semua perubahan tak mungkin kita capai hanya dengan berpangku tangan. Jalan menuju ke cita-cita mulia kita tidak akan pernah mudah. Bangkit, berbuat memperbaiki kesalahan dan menggunakan semua potensi harus dilakukan semua stakeholders. Penulis juga berharap banyak pada Caleg asal Kepulauan Sapeken yang terpilih pada Piled 9 April 2009 lalu. Saatnya membuktikan janji pada para konstituennya. Jangan "menjual" masyarakat kepulauan hanya pada saat kampanye.

Akhirnya, artikel ini mungkin terlalu dangkal, apalagi melihat seriusnya permasalahan yang dihadapi. Namun harapannya, artikel ini akan menjadi perspektif baru, sebuah tonggak awal optmisme masyarakat Kepulauan Sapeken untuk bangkit. Insya Allah.

Untuk Perempuan Kepulauan


Quo Vadis Perempuan Kepulauan Sapeken

dari Hartini Sampai Iing Hj. Meing

oleh : Minhadzul Abidin

kalian memang butuh laki-laki, tetapi jangan hidup dibawah

penindasan dan kekuasaan laki-laki

(Kutipan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia

-Pramoedya Ananta Toer-)

PENDAHULUAN

Ketika membaca buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer, ada hal yang menjadi gugatan dalam pikiran saya yang harus segera tuangkan dan mencoba mengelaborasi terhadap kondisi Perempuan di Kepulauan dari dulu sampai sekarang. Secara umum kondisi Perempuan Kepulauan adalah sub narasi Perempuan di Indonesia. Dimana kondisi Perempuan di Indonesia masih di dominasi budaya patriaki dan hegemoni patriarki tersebut bersekutu dengan agama yang ditafsirkan secara tekstual, tetapi hal itu sudah mulai diimbangi dengan munculnya gerakan Perempuan yang menyuarakan persamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara tanpa adanya diskriminasi gender, tetapi semua masih kontra produktif penuh perdebatan dan dialektika.


selengkapnya


...

KEDAULATAN YANG TERGADAIKAN

Golput ala Sujiwo Tedjo


Oleh : Minhadzul Abidin

Sujiwo Tedjo tokoh nyentrik yang memiliki nama lengkap Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962). Dia juga seorang dalang dan kalau bisara sangat ceplos-ceplos tanpa perhitungan apa adanya dalam bahasa jawanya disebut tanpa aling-aling, selalu mendeskripsikan sesuatu dalam konteks pewayangan jawa. Sujiwo Tedjo mulai terkenal sejak membintangi film KAFIR bersama Artis salah satu trah Azhari yakni Ayu Azhari. Ada hal yang mengganjal dalam pikiran saya ketika mengambil preference kepada sosok yang tidak jelas dan terlalu imajinatif dan melampaui batas dialektika rasional yang bersifat umum dan sangat kontroversial ini bahkan banyak menyebut nya sebagai orang senewen atau gila, tetapi ada yang menarik dari sosok yang satu ini ketika dalam suatu acara talkshow Pemilu disebuah stasiun televisi swasta setelah bertajuk Pemilu Indonesia sehari setelah Pemilu 2009 digelar yang membahas tentang prsentase golput di Pemilu 2009 yang mencapai 40%.

Selengkapnya


artikel baru

OPTIMISME PEMILU 2009

(Menjawab Kegalauan Terhadap Demokrasi Prosedural)

Oleh : Rahmatul Ummah

(Mahasiswa S2 FISIP Unila/Anggota KPU Kota Metro)

Ada beberapa pertanyaan penting yang harus saya ajukan untuk setiap orang yang menolak pemilu, apalagi jika argumentasinya itu dibangun di atas klaim akademis. (1) Mungkin atau adakah negara demokratis tanpa pemilu? (2) Apakah demokrasi substansial itu bisa dicapai tanpa demokrasi prosedural? (3) Dalam sejarah perjalanan negara, peroses peralihan kekuasaan hanya bisa dilakukan dengan 3 cara, REVOLUSI, KUDETA dan PEMILU?, Adakah cara yang lebih aman untuk peralihan kekuasaan selain Pemilu?

Selengkapnya

-

PEMILU 2009 AKAN MELAHIRKAN PEMIMPIN YANG MEMILIKI

SENSE OF POOR

APRIL MOP!!

Oleh : Minhadzul Abidin

Mungkin ketika kita mendengar kata APRIL MOP mungkin kata tersebut masih terasa asing di telinga kita, karena sejarah peradaban kebudayan Indonesia atau islam yang mendominasi kehidupan kita tidak pernah mengenal kata tersebut, mengapa saya menggunakan kata tersebut dan apa hubunganya dengan Pemilu 2009 yang akan dilaksanakan di bulan april. April Mop, dikenal dengan April Fools' Day dalam Bahasa Inggris, diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari ini, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap teman dan tetangga, dengan tujuan mempermalukan mereka-mereka yang mudah ditipu. Di beberapa negara, lelucon hanya boleh dilakukan sebelum siang hari (sumber: wikipedia), jadi pada hari tersebut dilegalkan untuk berbohong dan menipu orang lain karena akan dianggap sebagai bahan lelucon.

selengkapnya


-

MENGAPA KITA HARUS TOLAK PEMILU 2009 (Sebuah Ikhtiar Pribadi)

Oleh : Minhadzul Abidin


Tulisan ini merupakan penjelasan dari pendapat saya di buku tamu blog HIMAS pusat, tentang mari cerdaskan rakyat untuk menolak pemilu 2009 dalam konteks calon legislatif daerah pemilihan tujuh (DAPIL 7) DPRD kabupaten Sumenep, karena Caleg-Caleg yang muncul adalah pemain lama yang telah gagal dalam PEMILU 2004. kemudian banyak ditanggapi dengan pro kontra oleh alumni dan sebagian Anggota HIMAS. Mungkin namanya era keterbukaan demokrasi tidak ada ruang atau space khusus untuk membatasi hak berpendapat di muka publik dan pendapat tersebut tidak bermaksud atau dengan sengaja memprovokasi masyarakat. ......selengkapnya



sk

SURAT KEPUTUSAN
No. 04/SK-PP/HIMAS/III/2009

Tentang :
INDEPENDENSI HIMAS

selengkapnya



-

HIMAS PENGGUGAT ATAU TERGUGAT

(Sebuah Dialektika Sosial dan Kebebasan Berfikir)

By.Syaifuddin

(Alumni HIMAS/Pemuda Muhammadiyah)

Disaat semua bungkam dan diam dalam panatisme dan kesalehan individual, pada saat itu kelompok minoritas bergerak dalam dinamika kebungkaman itu, berangkat dari dhaurah ramadahan (th.2005 M), tradisi tahunan yang dilakukan oleh Alumni Pesantren Abu Hurairah sebagai bentuk penggodokan mentalitas dan pengembangan intelektualitas yang kental dengan kajian-kajian religius yang monologis (peserta hanya menjadi pendengar dari pemaparan pemateri), pada tahun itu, nampak aroma kesegaran berfikir, agresif, terbuka, dinamis dan ilmiah dibanding tahun-tahun sebelumnya , hal ini karena dominasi para mahasiswa sapeken yang tersebar di berbagai perguruan tinggi se Indonesia berkumpul untuk mengikuti acara tersebut. selengkapnya


“LUMPUR HEDONISME ;

Dalam Sindromatika Politik 2009-2014”

By. Syaifuddin

(Alumni HIMAS/ Pemuda Muhammadiyah)

SEIRING perputaran waktu begitu cepat dan dinamika zamanpun silih berganti mencari identitas dan jati diri sebagai penyebutan, petanda bahwa zaman telah berubah, kini kita memasuki era globalisasi, era dimana dunia semakin kecil, peristiwa-peristiwa yang terjadi di belahan dunia dapat diakses begitu cepat melintasi sirkulasi waktu, derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan perkebangan informasi, industrialisasi, sains dan tekhnologi, kini libralisme global dan intelektual kapital
selengkapnya

-

Artikel Baru

REFLEKSI MILAD KE-8 HIMAS

MEREKONTRUKSI KEMBALI SEBUAH NARASI BARU

Oleh : Mu’arif Rahmatullah

(SEKJEND PW HIMAS SURABAYA)

Beberapa hari lagi, tanggal 24 Februari 2009 M, merupakan hari bersejarah bagi HIMAS. tepatnya tanggal 24 Februari 2001 yang silam organisasi mahasiswa kepulauan ini lahir di sapeken. Tidak terasa waktu terus bergulir membawa sejarah tersendiri bagi perhimpunan anak-anak “muda terdidik” kepulauan ini (baca; mahasiswa). Dinamika perubahan yang setiap saat bergerak dalam ketidakpastian, sedikit banyaknya mengubah pola alir gerakan HIMAS dalam merespon dinamika perubahan tersebut. terkadang HIMAS tertinggal, terkadang pula larut dalam dinamika tersebut.

Sesungguhnya kelahiran dan kehadiran gerakan Islam, serta organisasi-organisasi Islam di hampir selruh persada nusantara Indonesia, bermaksud mengenyahkan penjajahan di muka bumi Indonesia serta menjadikan kemerdekaan bagi Indonesia, tidak lain karena diilhami dari suatu risalah yakni ‘risalah Islam’.

Selengkapnya


PEMUDA DAN PESTA DEMOKRASI PEMILU 2009


usman adhim (Presidium I PP HIMAS)


Aku tak bisa untuk tak peduli, Hati ini tersiksa,

Aku bersumpah, Untuk berbuat yang aku bisa

Harus ada yang dikerjakan, Agar kehidupan berjalan wajar

Hidup hanya sekali, Uku tak mau hidup dalam keraguan

(Iwan fals – 15 Juni 1996)


Momentum penting kebangsaan, yakni pemilihan umum (pemilu), kian hari kian dekat hadir ditengeh-ditengah kita. Dalam penantian harap-harap cemas ditengah janji-janji politik mengumbar prestasi mengharap simpati lewat iklan-iklan suksesi politik klaim bukti, kelabui masyarakat. Kaum muda indoneaia harus menjadi faktor penentu bukan pelengkap penderita dalam momentum itu, kita harus menjadi bagian solusi bagi permasalahan bangsa. itulah peran utama kaum muda dari agama apapun atau organisasi apapun mereka berasal.

Sebaliknya kalau kaum muda justur menjadi bagian dari masalah atau Cuma pelengkap penderita dan penyerta, maka bukan lagi berjiwa pemuda tapi sedah tergolong genersi yang harus pensiun. Tinggal menunggu malaikat maut memanggil kehadapan Tuhan, karena pemuda identek dengan perubahan dan bila kata pemuda disandingkan dengan kata perubahan maka inter pretasinya bukan lagi usia sebagai parameternya tapi semengat remormasi pemuda sebagai agen of change, agen of conrol dan agen of reformasi. Oleh karena itu Ali bin abi thalib berkata, himmaturrizal tahrikul jibal: semangat para pemuda dapat menggoncang dan merontokkan gunung. Karena, izda kanati nnufusu kibaran muradhihal ajsam: apabila semangat itu telah berkobar maka jasad tidakkan pernah mampu melayaninya. Pertanyaanya, selama ini jasad kita dicapekkan oleh hal-hal apa, bagaimana dan untuk apa?

Kita kaum muda, semua sudah pernah merasakan bagaimana perjalanan kepemimpinan bangsa selama masa transisi. Kita telah menghitung sisi positif dan negatifnya, kita juga mengetahui kemunduran dan kemajuan bahkan stagnasi yang terjadi. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh pemimpinnya. Tapi jangan lupa, munculnya seorang pemimpin juga sangat terkait dengan kualitas bangsa secara keseluruhan.

Bangsa yang berjiwa besar dan bertekad untuk terus maju, mustahil melahirkan pemimpin yang berjiwa kerdil dan berorientasi jangka pendek. Bangsa yang ingin mewujutkan cita-cita yang digariskan para founding father (pendiri bangsa), maka akan memilih pemimpin yang mampu merealisasikan tekad luhur itu.

Sebaliknya bangsa yang pemalas dan tak produktif, dan orientasinya pada pencarian kekuasaan yang egoistic, maka mustahil akan memilih pemimpin yang suka bekerja keras dan mendahulukan kepentingan rakyat demi demi tercapainya kemajuan bersama. Bangsa yang menjunjung agenda reformasi demi terwujudnya Negara yang makmur dan bersatu, yang berdaulat dan berwibawa dimata bangsa lain, pasti mereka akan memilih sosok pemimpin yang mampu memenuhi harapan itu.

Itulah kaedah umum yang berlaku dalam sejarah politik tentang lahirnya sebuah kepemimpinan nasional yang mengakar. UUD 1945 yang telah diamandemen menyatakan kedaulatan diserahkan seoenuhnya kepada rakyat. Kita semua memiliki hak yang setinggi-tingginya untuk menentukan corak pemimpin masa depan.

Oleh karena itu, agar kita memperoleh pemimpin yang baik, mau tidak mau kita harus menentukan: posisi apa yang kita ambil?. Bila kita memang anak bangsa yang dikenal malas dan hanya memikirkan dirinya sendiri larut dalam hedonisme kehidupan, maka sikap yang lahir adalah acuh tak acuh, dan cenderung jadi tukang kritik, atau bahkan kita akan memilih pemimpin yang malas. Tidak ada anak bangsa yang pemalas yang mau memilih pemimpin yang rajin, kapabil dan berdisipplin, karena merasa akan kena sangsi sifat hedonisnya, tapi alangkah tragisnya dampak buruk yang akan menimpa masyarakat yang jadi korban politik para gerombolan prakmatisme.

Pemilu yang akan dating ini merupakan momentum yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas diri kita sebagai anak bangsa, menyelamatkan nasib masyarakat, ekonomi dan pendidikannya. putra daerah yang tahu betul nasib prekonomian masyarakatnya, tahu betul pekerjaan orang tua mereka dan tahu betul nasib pendidikannya dan tahu betul bagaimana putra daerah yang kaya sumber daya alamnya, mengundi nasib menuntut ilmu nyambi jadi marbot masjid, pelayan toko dan restoran, jualan, dan lain-lain. Seberapa keras hati kita bila tidak tersentuh dengan fonomena itu. Pemilu akan datang ini disamping menjadi faktor pendidikan politik yang sangat krusial dan urgen sekali juga menjadi penentu nasib bangsa untuk menjadi lebih baik atau makin terpuruk, kita kaum muda lebih bertanggung jawab membaca dan memfirasati kemunggkina-kemungkinan itu untuk mengarahkannya sebelum nasi menjadi bubur, Sebab tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan pemilu lima tahun yang akan datang.

Intensitas pengawalan dalam perjuangan sepenuh hati kaum muda khususnya sangat ditutut di tengah-tengah masyarakat yang dibingungkan oleh kontaminasi para calon pemimpin dengan berbagai janji politik. Pemilu yang jujur dan adil kita perlukan, agar kita bisa membayangkan daerah kita, masyrakat kita, orang tua kita dan adik-adik kita dimasa datag hidup dalam keadilan sosial dan kesejahteraan. Hal itu, suka atau tidak suka, sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan kita, pemimpin yang berkualitas dan peduli terhadap nasib rakyat serta generasi mas datangakan menciptakan bangsa yang makmur, dal dan sejahtera, damai dan tentram.

Semestinya kita semua menyambut kesempatan yang baik dalam pemilu untuk mengoreksi faktor negative yang terjadi selama ini sebagai sebab terjadinya krisis yang menjerat masyarakat miskin kepulauan. Kita melihat beberapa partai diprotes dan didemonstrasi oleh anggota dan kadernya sendiri, kita melihat beberapa partai terpecah dan mengalami konflik ataupun folemik inernal yang berkepanjangan. Apapun alasannya,subyaktifitas soliditas internal, merekomendasikan obyaktifitas-soliditas ekternal secara orientataif dalam mengelola hubungan secara horizontal yang lebih luas dan fertikal yang lebih profesianal.


MERINDUKAN HIMASWATI BERJIWA RADIKAL BERFIKIR EMANSIPATORIS

(Semangat Anisa` dalam Film Perempuan Berkalung Sorban)

By.SYAIFUDDIN

(Alumni HIMAS / Pemuda Muhammadiyah)

Dari waktu-kewaktu perjalanan dan pergerakan perempuan mengalami pasang surut karena harus berhadapan dengan patriarkis yang diangap lebih unggul dari perempuan, perempuan di gambarkan oleh Abidah el Khalieqy, dalam Novelya, Perempuan Belkalung Sorban (PBS) yang telah di visualkan dalam bentuk film, sutradara, Hanung Bramantyo, film kontoversial ini menyedot perhatian MUI dan tokoh agama konservatif lainya, PBS dalam tradisi PP. Al-Huda (Institusi Pengkajian Islam) diletakkan sebagai obyek terhadap laki-laki, istri hanya menjadi pemuas nafsu seksualitas suaminya, bahkan terpasung atas nama agama “istri akan dilaknat oleh Tuhan jika istri tidak mau melayani suaminya”, paradigma kultural yang berkambang di institusi pendidikan yang mengajarkan kitab kuning dan penanaman nilai-nilai religiusitas pada santriwatinya itu, mendapat perlawanan keras Annisa` (Revalina S Temat) karean perempuan tida diberikah hak proporsional dalam keperempuanannya sebagaimana hak laki-laki. Selengkapnya

VALENTINE OH VALENTINE

Oleh : Rina Hafidz

If there were no words…. No way to speak

I would still hear you

If there were no tears

No way to feel inside, I’d still feel for you

And even if the sun refused to shine

Even if romance ran out of rhyme

You would still have my heart until the end of time

You’re all I need, my love, my Valentine.

( Penggalangan lagu diatas adalah lagu wajib di Bulan Pebruari yang dinyanyikan oleh Martina McBride diiringi lantunan piano Ciamik dari Jim Brickman dengan judul Valentine).

Asal Muasal Valentine

Kalau mau mencari tahu sejarah mengapa ada acara valentine itu sangat mudah sekali bagi kamu yang terbiasa mengakses internet cukup ketik “ sejarah valentine ” dimesin pencari Google maka kita akan temukan artikel / tulisan yang melimpah ruah yang membahas masalah ini. Sekilas penulis memberikan penjelasan tentang asal muasal valentine dari berbagai versi. Ada versi yang mengatakan, dulu sebelum masa kekristenan, jaman Yunani Kuno Dan Romawi kuno ada tradsi pesta yang dilakukan tiap pertengahan Pebruari. Di jaman Athena kuno, tradisi ini disebut sebagai Bulan Gamelion yaitu masa menikahnya dewa Zeus dan dewi Hera. Sedangkan di jaman Romawi Kuno, disebut hari raya Lupercalia sebagai peringatan terhadap dewa kesuburan Lupercus, yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba, dan dewi cinta Juno Februata. Dimana pada hari raya ini ada kebiasaan yang digandrungi yang disebut sebagai Lotre pasangan, yaitu para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah benjana lalu para pria mengambil satu nama dalam benjana tersebut yang kemudian menjadi kekasihnya selama festival berlangsung. Tradisi inipun menyebar dengan cepat keseluruh Eropa. Kemudian Kristen pun masuk ke Eropa, namun penyebarannya terhambat ketika benturan dengan tradisi dibulan Pebruari ini. Dicarilah cara agar bisa menarik orang masuk agama Kristen sehingga diadopsilah perayaan kafir pangan ini dengan memberi kemasan kekristenan. “ jadilah Paus Gelasius I pada 14 Pebruari 469 M mengubah upacara Romawi Kuno Lupercalia ini dan meresmikannya menjadi Saint valentine’s Day ”, hal ini juga dilakukan untuk menghormati Pendeta Valentino yang dihukum mati oleh Raja Claudius II ( 268- 270 ) karena memtertahankan keyakinannya dan ada juga yang mengatakan Pendeta ini mati karena membela kisah cinta 2 anak manusia padahal gereja telah melarangnya. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa tanggal 14 Pebruari ini adalah musim kawin sejenis burung tertentu.

selengkapnya

.

Save Our Palestina

both;'/>

HIMAS: MEMBEDAH REALITAS MENJAWAB

PROBLEMATIKA SOSIAL KEPULAUAN

(by. Syaifuddin,

Alumni HIMAS/Pemuda Muhammadiyah)


Untuk mebangun masyarakat kepulauan maka pemerintah harus boros jika tidak maka selamanya masyarakat akan ketinggalan dan akan terjadi ketimpangan yang berkepanjangan antara daratan (kota) dengan kepulauan……” (Dr. Suekarwo, M.Hum)


Pernyataan ini bukan pernyataan yang kering dan kosong dari realitas tapi merupakan koreksi kebijakan terhadap pemerintah tertama pemerintah Kabupaten Sumenep, dalam kebijakanya tidak “sudi” kalau kepulauan maju dan berkembang dalam sosial ekomomi, distorsi kebijakan ini merupakan kepicikan pemerintah Kabupaten Sumenep.

Sumur gas di Pagerungan dieksplorasi BP Kangean sejak 1993. Mula-mula bisa memproduksi 225 juta kaki kubik per hari. "Tapi, lambat laun mengalami pengurangan alami dan sekarang 14 sumur yang aktif dari 18 sumur dengan hasil produksi pada tagun 2003 hanya 180 juta kaki kubik per hari" Sedangkan Sumur minyak di Sepanjang cukup besar. Saat ini ada tiga sumur yang sudah dieksplorasi dan siap untuk dieksploitasi. Tiap sumur itu diprediksi memiliki kandungan 350 barel per hari. "Jadi, 1.050 barel per hari bisa dihasilkan dari tiga sumur itu," dan 80% - 85% untuk Pendapatan Daerah Kabupaten Sumenep, dengan jelas bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep bisa bertahan hidup karena adanya subsidi dari kepulauan.


Selengkapnya


REVOLUSI KURIKULUM

Menuju Pendidikan yang Mencerahkan


By: Umar Hadi bin Makka

(KETUA DEPT PENDIDIKAN PP HIMAS)


Dan ketika Allah Swt. berfirman dalam kitab-Nya “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS: 4. 141), maka masyarakat yang dikehendaki oleh al-Qur’an adalah masyarakat yang agung dan mulia; sebuah masyarakat yang memiliki semua persyaratan sebagai masyarakat terbaik, sebuah masyarakat yang tidak menyisakan tempat bagi sebuah kelemahan. Masyarakat Islam bukan kumpulan individu para pecundang yang terpinggirkan dalam sejarah. Islam menghendaki umatya tidak mengalami marginalisasi periferalisasi dalam percaturan peradaban dunia. Karena itu saya ingin menegaskan doktrin teologis kita sebagai masyarakat terbaik yang harus keluar menjadi pemenang dalam semua epos sejarah kemanusiaan. Ayat itu , secara implisit, berusaha menjelaskan visi eksistensial kita yang harus menjadi pemimpin dan soko guru peradaban umat manusia. Dalam ayat lain, al-qur’an menyebut masyarakat terbaik itu dengan kata “khaira ummah”.


Selengkapnya

.

Perempuan Dalam Bingkai Islam

(Inspirasi Film Perempuan
Berkalung Sorban)



Kebahagianku adalah ketika kau bersama denganmu dan pergi bersama dengan dirimu, karena Allah ternyata tidak adil kepada Perempuan
(dialog Annisa-perempuan berkalung sorban)



ketika saya diajak oleh seorang

teman untuk menonton film yang diadaptasi

Novel dengan judul yang sama karya Abidah el

Khalieqy, yang disutradai dengan apik dan

penuh kontroversial oleh Hanung Bramantyo,

saya langsung menyanggupinya, ada hal yang

membuat saya penasaran dan terlalu (meminjam

istilah andrea hirata) obsesif kompulsif

dengan film Perempuan Berkalung Sorban

(PBS), apalagi setelah membaca resensi film

tersebut di salah satu surat kabar ibukota.

selengkapnya

ekonomika

EKONOMI SAPEKEN
DIANTARA MUSIM BARAT, KEYNESIAN DAN MA SUREBE


Oleh : Minhadzul Abidin

PENDAHULUAN
Musim barat di Kecamatan Sapeken yang biasa disebut sebagai musim penceklik, yang ditandai dengan angin dan gelombang tinggi membuat perahu dan kapal harus karam di Pelabuhan sampai waktu yang lama, pada musim barat tersebut tersebut roda dan gairah perekonomian masyarakat lemah, karena tingkat pendapatan yang menurun, daya beli rendah dan implikasi pada semua sektor kehidupan masyarakat. salah satu yang terkena dampaknya adalah Pedagang, ditengah permintaan (demand) yang semakin menurun dan daya beli masyarakat rendah, Pedagang akan mengalami kerugian yang sangat signifikan, karena pada saat itu Pedagang akan menjual barang dengan harga murah atau memberikan hutang kepada konsumen dan arus perputaran modal akan mengalami hambatan yang besar. Penurunan daya beli masyarakat disebabkan karena sumber mata pencaharian terbesar masyarakat yaitu Nelayan mengalami hambatan (weakness)karena Nelayan tidak berani melaut Dan pada situasi inilah deflasi semakin meningkat dimana jumlah barang melebihi jumlah uang yang beredar.

Selengkapnya

artikel baru

Marjinalisasi Suku Bajo Sumenep

oleh : Moh. Sarip Hidayatullah

(Anggota UKM FDI UMM, Mahasiswa Sosiologi UMM)

Percayakah anda jika di Kabupaten Sumenep yang mayoritas suku Madura terdapat sebuah kecamatan yang justru dihuni oleh suku lain? Kecamatan tersebut bernama Sapeken, sebuah kecamatan kepulauan di Sumenep. Inilah sebuah keunikan yang justru jarang dikenal orang.


selengkapnya

cerpen

CERPEN

Sheina

Jadi Pelacur Untuk koruptor

Chapter 4

Oleh : Minhadzul Abidin


Dari penjelajahan ku di karang kongo dan melihat potret sebenarnya yang terjadi di kampung halamanku yang terkenal sangat menjujung nilai-nilai syari’at islam, Aku mulai mendengus panjang, tubuhku lunglai, tatapan mataku mulai tidak terfokus, ada duri yang menusuk lerung hatiku, inikah potret kehidupan yan tidak bisa kita pandang sebagai sebuah paradigma hitam putih, niatku untuk mencari Sheina di kegelapan malam ini tidak lagi tumbuh, menurutku Sheina adalah bagian simpul dialektika kehidupan yang mulai terpusat pada titik antitesis kehidupan fatamorgana ini, “ ayo kita pulang” begitu aku berucap dengan suara lirih kepada Muse yang sejak dari tadi menemaniku, entah apa dipikirannya melihatku duduk tersungkur di pasir putih yang baunya menyegat seperti kotoran manusia, “ kamu tidak apa-apa Ril?” dengan nada yang polos tanpa beban, “ “gak, apa-apa koq, ayo kita pulang” dengan nada yang seadanya dan hatiku menerawang tidak tahu entah kemana.

Selengkapnya



ARTIKEL AWAL TAHUN


PERLUNYA “HIJRAH POLITIK”

DALAM MENYONGSONG TAHUN POLITIK


Oleh : Mu’arif

“Kemarin adalah sejarah. Hari ini adalah realita. Dan esok adalah misteri” (Sejarawan)

“independensi himas bukan berarti a politik ataupun anti politik, karena bagaimanapun himas memiliki tanggung jawab political Question (kecerdasan dan mencerdaskan politik) di kepulauan Sapeken”.

Kita telah berada di penghujung perjalanan tauhun 2008, dan kini sedang menanti pergantian tahun ke 2009. Ketika disebut tahun 2009, para tokoh menyebutnya sebagai “tahun politik”. Ada dua perhelatan besar politik yang berlangsung di tahun 2009 mendatang; pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislative (pilleg). Kita bangsa Indonesia akan sedikit memeras keringat mempersiapkan diri dalam memasuki “tahun politik” itu. selengkapnya

Pondok; How long can you go?
(Memahami Peran Politik Pondok Pesantren Persatuan Islam Abu Hurairah )

Oleh ; Minhadzul Abidin


Pesantren PERSIS Abu Hurairah yang lebih akrab disebut Pondok, memang tidak ada istimewanya kalau dibandingkan dengan sejumlah pesantren modern di Indonesia yang sudah memiliki kurikulum yang canggih, akses informasi yang luas dan alumni yang bertebaran menjadi tokoh nasional, tetapi ada hal yang menarik terutama bagi masyarakat kecamatan sapeken, Pondok memiliki nilai historis panjang dengan masyarakat kecamatan sapeken, dan mempunyai hubungan ikatan mutualisme yang relevan dan konstruktif terhadap perkembangan dinamika sosial kultural masyarakat se-kecamatan sapeken. Pondok meruapakan basis perjuangan masyarakat, benteng terakhir aqidah dan tuntunan syari’at, Pondok hadir menjadi sebuah fenomena yang menjelma menjadi dialektika kehidupan merekonstruksi pola keagamaan dan pengetahuan primitf masyarakat.

selengkapnya

CATATAN AKHIR TAHUN


KABUPATEN SUMENEP

DALAM MENGHADAPI TANTANGAN EKONOMI KREATIF TAHUN 2009

Oleh :Minhadzul Abidin

PENDAHULUAN

Pada tanggal 22 Desember 2008 bertepatan dengan hari ibu kemarin pemerintah mencanangkan ekonomi kreatif tahun 2009, yang menjadi solusi tepat dalam mengatasi krisis keuangan global yang menyebabkan PHK besar-besaran yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi. Ekonomi kreatif lebih memprioritaskan pada pengembangan usaha sektor riil yang berbasis kemandirian dengan pola manajemen ekonomi modern, seperti pola pemasaran dan peningkatan mutu dan kwalitas barang hasil produksi yang lebih kreatif, ekonomi kreatrif lebih menekankan produksi pada barang disekitar kita yang dianggap sebagian orang tidak berguna, Ekonomi kreatif yang mulai diperkenalkan oleh John Howkins, dalam bukunya yang berjudl "The Creative Economy - How People Make Money from Ideas", kemudian dipertegas pengusaha Microsoft corp bill gates pada forum WTO tentang kapitalisme kreatif cara mengatasi krisis keuangan dunia, bagaimana sektor usaha besar harus mulai menyusun strategi dan mulai menekankan aspek kreatifuitas ekonomi kecil, sehingga mempunyai fungsi yang lebih dekat dengan masyarakat secara langsung dan tingkat resikonya kecil, meskipun keuntungan sedikit tetapi akan lebih bersinergi. selengkapnya

Dicari: Feminis Moral Untuk Indonesia!

Oleh : Abdul Qodir Qudus

Sebenarnya, saya enggan memakai kata "feminis". Tapi bagaimana lagi, kata itu kadung menjadi sebutan bagi perempuan yang "gelisah" terhadap hak perempuan dan memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masalah-masalah kaum perempuan.

Perbincangan mengenai masalah perempuan yang terus bergulir hingga kini, tidak pernah lepas dari semua aspek kehidupan. Semua hal selalu nampak "bias gender" ketika kita telah menyentuh ranah pembelaan hak terhadap perempuan. Memang, kita tidak memungkiri bahwa masih banyak para perempuan yang terlilit oleh ketidakpekaan lingkungan sosial mereka (termasuk didalamnya perempuan yang lain dan laki-laki) terhadap keharmonisan dan kesadaran akan tanggungjawab bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih humanis. selengkapnya

Berkah Ponsel, Ekonomi Nelayan

Bergerak Maju



Oleh: Mohammad Hidayaturrahman


Saat ini, keberadaan telepon seluler (ponsel) tak hanya

dirasakan oleh kaum profesional yang tinggal di kota-kota

besar. Ponsel juga dirasa sangat besar manfaatnya oleh para

nelayan di pelosok negeri yang berada di wilayah kepulauan,

dimana yang menjadi pengguna ponsel di wilayah kepulauan

adalah para nelayan. Salah satu kepulauan yang nelayannya

banyak menggunakan ponsel adalah Kepulauan Kangean dan

Sapeken.

Meski termasuk wilayah Madura, Jawa Timur, warga

Kepulauan Kangean dan Sapeken tinggal di daerah yang tidak

mudah dijangkau alat transportasi laut, apalagi darat dan

udara. Untuk mencapai kepulauan ini, dibutuhkan sedikitnya

waktu 12 jam perjalanan kapal laut, dari Pelabuhan Tanjung

Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Kapal yang digunakan

adalah kapal perintis, milik Pemerintah Pusat, melalui

Selengkapnya

informasi